Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Karena Pekerja Sakit Berkepanjangan, Apa Hak Pekerja ?

Rumusan Kompensasi PHK apabila hubungan kerja berakhir atas alasan pekerja mengalami sakit berkepanjangan, adalah sebagai berikut:[1]

Kompensasi PHK: 2 (x) Pesangon + 2 (x) UPMK + UPH

Baca Juga: (1) Cara Melakukan Pemutusan Hubungan Kerja; (2) Bentuk-Bentuk Kompensasi dalam Pemutusan Hubungan Kerja; (3) Rumusan Perhitungan Kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja.

Pada prinsipnya, tidak terlalu banyak perdebatan terkait alasan PHK karena pekerja mengalami sakit berkepanjangan. Sepanjang seorang pekerja dapat membuktikan sedang mengalami “sakit berkepanjangan”, cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan, maka Pasal  172 UU 13/2003 memberikan hak kepada pekerja untuk dapat mengajukan PHK. Pada sisi lain, menurut Pasal 153 ayat (1) huruf j. UU 13/2003, pengusaha dilarang untuk melakukan PHK dengan alasan pekerja dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau sakit karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka waktu penyembuhannya belum dapat dipastikan.

Kasus XXII: Wiyadi Sumarto (vs.) Yoseph

Untuk lebih memahami praktik pelaksanaan PHK karena pekerja sakit berkepanjangan, ada baiknya melihat penerapan norma Pasal 172 UU 13/2003 pada Putusan Mahkamah Agung Perkara Wiyadi Sumarto (“Wiyadi”) vs. Yoseph (“Yoseph”) No. 836 K/Pdt.Sus/2011 tanggal 18 April 2012.[2] Pada intinya, kasus posisi dan pertimbangan hukumnya adalah sebagai berikut:

  • Wiyadi adalah pengampu (wali) dari Dandung Suyamto (“Dandung”) yang merupakan pekerja pada perusahaan Yoseph pada tahun 1994 dengan upah terakhir sebesar Rp.28.000,-/hari.
  • Pada saat melakukan pekerjaan, Dandung mengalami sakit (terganggu ingatanya). Untuk itu, Dandung disuruh berobat oleh Yoseph dan diberi waktu istirahat tidak masuk bekerja di perusahaan dari tanggal 5 Januari 2009 sampai dengan 17 Januari 2009.
  • Pada tanggal 19 Januari 2009, Dandung datang ke perusahaan untuk masuk kerja. Namun, Yoseph menyatakan Dandung belum siap fisik dan pikiran untuk bekerja. Hari itu juga, Dandung dipulangkan dan disuruh berobat hingga sembuh.
  • Dadung kemudian berobat diantar oleh keluarga ke Rumah Sakit Jiwa Surakarta selama 3 (tiga) bulan. Setelah tiga bulan berobat dari rumah sakit jiwa, Dandung kembali datang ke perusahaan milik Yoseph untuk masuk kerja. Akan tetapi Dandung kembali disuruh pulang.
  • Permasalahan tersebut berujung dengan diajukannya oleh Dandung permohonan PHK kepada PHI, dalam gugatannya Wiyadi selaku pengampu (wali) dari Dandung meminta majelis hakim PHI memutuskan:
    • Menyatakan bahwa PHK berdasarkan Pasal 172 UU UU 13/2003.
    • Menghukum Yoseph untuk membayar Kompensasi PHK sesuai Pasal 172 UU 13/2003 dengan rumusan [2 (x) Pesangon + 1 (x) UPMK + UPH].
  • Terhadap gugatan tersebut majelis hakim PHI (Judex Facti) pada PN Semarang telah mengambil putusan, yaitu putusan  No. 14/G/ 2011/ PHI.SMG. tanggal 13 September 2011 yang amarnya sebagai berikut :
    • Mengabulkan  gugatan Wiyadi untuk sebagian;
    • Menyatakan hubungan kerja antara Dandung (pekerja) dengan Yoseph berakhir karena Dandung Suyamto sakit gangguan jiwa berat sejak tanggal 10 Maret 2011;
    • Menghukum Yoseph untuk membayar Kompensasi PHK kepada  Wiyadi Sumarto sebagai pengampu Dandung, sebesar Rp. 22.121.400,- dengan rincian sebagai berikut:
Kompensasi PHK Perhitungan Jumlah
Pesangon 2 x 9 x  Rp.      801.500 Rp. 14.427.000
UPMK 1 x 6 x  Rp.   838.500 Rp.   4.809.000
UPH 15%  x  Rp. 19.236.000 Rp.   2.885.400
Total Rp. 22.121.400
  • Merasa tidak puas atas putusan PHI, Yoseph kemudian mengajukan Kasasi kepada Mahkamah Agung. Atas permohonan kasasi tersebut majelis hakim kasasi (Judex Juris) menerima permohonan kasasi Yoseph. Sehingga membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 14/ G/2011/PHI.SMG. tanggal 13 September 2011.  Dalam pertimbangannya dijelaskan bahwa:
    • Mahkamah Agung, berpendapat bahwa putusan Judex Facti telah salah menerapkan hukum;
    • Wiyadi memberikan bukti sakit tidak dengan bukti asli hanya dengan foto copy dan isinya bukan keterangan sedang sakit tetapi keterangan pernah berobat dokter 2008 dan berakhir Juni 2010 untuk dapat membuktikan sakit berkepanjangan sebagaimana diatur Pasal 172 UU 13/2003;
    • Oleh karenanya seharusnya Pasal 172 belum dapat dilaksanakan sebagaimana pertimbangan Judex Facti tetapi demi keadilan dipertimbangkan diputus dengan rumusan [1 (x) Pesangon + 1 (x) UPMK + UPH], dengan rincian sebagai berikut:
Kompensasi PHK Perhitungan Jumlah
Pesangon 1 x 9 x  Rp.      801.500 Rp.   7.213.500
UPMK 1 x 6 x  Rp.      801.500 Rp.   4.809.000
UPH 15%  x  Rp. 12.022.500 Rp.   1.803.375
Total Rp. 13.825.875

Bertitik tolak dari perjalanan kasus di atas, terlihat bahwa pekerja bermaksud untuk mengajukan PHK atas dasar sakit yang berkepanjangan berdasarkan Pasal 172 UU 13/2003. Namun rumusan Kompenasasi PHK yang seharusnya dituntut adalah [2 (x) Pesangon + 2 (x) UPMK + UPH] bukan [2 (x) Pesangon + 1 (x) UPMK + UPH]. Kasus di atas, memperlihatkan kekeliruan pekerja dalam menuntut pembayaran Kompensasi PHK. Sehingga, hakim pengadilan tingkat pertama hanya mengabulkan sebatas apa yang dituntut pekerja.

Pekerja yang mengalami sakit berkepanjangan harus dapat membuktikan kebenarannya dengan Surat Keterangan Sedang Sakit dari rumah sakit atau dokter. Bukti yang berupa “photo copy” tidak dapat dianggap sebagai bukti apabila nyata-nyata bukti tersebut ditolak oleh pihak lawan (pengusaha). Oleh karena pekerja tidak dapat membuktikan kebenaran bahwa pekerja mengalami sakit berkepanjangan, pada akhirnya hakim menjatuhkan putusan PHK demi keadilan. Dengan mana pekerja berhak atas Kompensasi PHK dengan rumusan: [1 (x) Pesangon + 1 (x) UPMK + UPH].


[1] UU No. 13 Tahun 2003, Pasal 172.

[2] Mahkamah Agung, Putusan Mahkamah Agung Perkara, No. 836 K/Pdt.Sus/ 2011, tanggal 18 April 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat