Sisi Gelap Pendekar Anti Korupsi

Laksana bulan, setiap orang selalu mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan. Sebuah sisi yang jika tidak dikendalikan akan merubah seseorang berhati malaikat menjadi iblis yang mematikan. Seorang atlet, artis, politikus, bahkan pemuka agama yang tersohor sekalipun, akhirnya dihancurkan sisi gelapnya yaitu rasa haus akan harta, ketenaran dan kekuasaan.

Begitu juga dengan mereka yang terkenal dengan sebutan pendekar anti korupsi. Ketidak berdayaan mereka dalam menahan rasa haus akan harta dan ketenaran, menyebabkan sampai detik ini perang melawan korupsi hanya akan menjadi gurauan menarik bagi setiap anak bangsa, korupsi tetap saja menjadi jalan tiada berujung, seakan selalu diwariskan dari generasi ke generasi.

Menyadari kecenderungan adanya sisi gelap, berusaha untuk tidak membantah, tetapi tetap mengendalikannya akan mempermudah para pendekar anti korupsi dalam mencapai tujuannya. Negara yang diberi label “sarang koruptor” tidak akan pernah terdengar lagi ketika semua menyadari bahwa dalam dirinya pasti bersemayam bibit-bibit koruptor. Sedangkan Pendekar yang menggembar-gemborkan bahwa mereka adalah golongan putih, suci, tanpa sisi gelap, merupakan golongan yang paling mudah terjerumus dalam lubang kelam dunia korupsi.

Sisi  Gelap Penegak Hukum

Penegak hukum seperti Hakim, Polisi, Jaksa, KPK, dan Pengacara adalah ujung tombak dalam pemberantasan korupsi di indonesia. Akan tetapi yang dijadikan tombak kebanyakan terkadang menusuk Rakyat dari belakang. Sudah menjadi rahasia umum ketika ada Polisi dengan rekening Miliaran, Jaksa penjual Dakwan, sampai pada Hakim yang tertangkap tangan menerima sogokan.

Tidak sedikit orang mengatakan bahwa untuk menjadi Polisi, Jaksa ataupun Hakim seseorang harus sediakan uang ratusan juta. Pada akhirnya yang menjadi penegak hukum hanyalah para Penyogok dan Koruptor saja. Sedangkan mereka yang jujur didepak di tahap perseleksian. Jika semua itu memang benar, maka bagaimana mungkin menjadi penegak hukum anti Korupsi apabila memulai semuanya dengan melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Sisi Gelap Bapak dan Ibu DPR

Sebagai lembaga yang diharapkan mewakili rakyat dalam menjalankan kedaulatan. Dengan fungsi anggaran, legislasi dan Pengawasan, DPR diharapkan membentuk Peraturan Perundang-undangan yang kuat dalam pemberantasan Korupsi, membentuk Panja-Panja untuk memberantas Korupsi, mengawasi kinerja penegak hukum bahkan memilih penegak hukum yang berkualitas.

Namun harapan hanya menjadi hayalan ketika banyak anggota DPR yang menjadi perampok uang negara. Bagaimana mungkin membentuk Perundang-undangan yang kuat dalam pemberantasan Korupsi,  ketika masih banyak anggota DPR yang memperjualbelikan pasal-pasal. Panja Century dan Mafia Pajak Seperti dijadikan gertakan politik belaka, demi tetap bertahan di singgasana kekuasaan. Terpilihnya Pimpinan KPK, Polri, Hakim Agung dan Penegak hukum lainnya, tidak bisa dipastikan terlepas dari Intrik-Intrik politik kotor dan kepentingan para Koruptor.

Sisi Gelap LSM

Jika selama ini kita mendengar LSM dengan kepedulian sosialnya, sangat mementingkan kepentingan rakyat lemah. Sisi gelap dari keberadaan siluman-siluman yang berkedok LSM di bumi Pertiwi perlu juga disampaikan. Dengan kedok pejuang demokrasi, transparansi, HAM, serta anti korupsi mereka mengkelabuhi rakyat. Potret ribuan si miskin diperjual-belikan untuk mendapat kucuran dana dari donatur. Sehingga menjadikan yang miskin tetap miskin dan aktivis LSM bermandian degan uang, disamping mendapat pujian atas “Kedermawanannya” kepada simiskin.

Tidak jarang dibicarakan ada LSM yang memeras pemerintah ataupun pengusaha dengan data yang dimiliki, ada pula LSM yang mendapat kucuran dana dari perusahaan asing dan bahkan dibiayai untuk kepentingan Asing. Paling menghinakan ketika aktivis LSM mencari-cari sensasi, mengadakan pembohongan Publik, menjadikan rakyat miskin dan anti korupsi sebagai langkah untuk mendapatkan popularitas. Pemberantasan korupsi yang diperjuangkan LSM takkan berarti apa-apa ketika aktivis LSM melarikan tujuan mereka kepada Uang, Popularitas, dan Ketenaran.

Sisi Gelap Mahasiswa

Mahasiswa adalah golongan yang paling Idealis dalam pemberantasan korupsi. Mereka dikenal Pawang Demokrasi, rela turun ke jalan dalam aksi menegakkan pilar demokrasi yang anti korupsi, dengan semangat dan lantangnya berkoar-koar di Instansi-instansi pemerintah.

Namun sangat ironis ketika dilihat sisi gelap prilaku mahasiswa, kebanyakan mereka tidak lebih dari seorang Koruptor. Mulai dari mencontek, titip absen, bolos, menipu bahkan hampir semua prilaku koruptor dikerjakan oleh mahasiswa. Walaupun perbuatan itu hanya hal kecil dan sepele namun ketika telah menjadi kebiasaan pastilah prilaku Koruptor akan mendarah daging di tubuh mahasiswa.

Sisi Gelap Rakyat

Jika direnungkan siapa sebenarnya yang memperlambat pemberantasan Korupsi di negara ini, maka rakyat adalah monster yang paling bertanggung jawab terhadap prilaku Korupsi. Rakyat mungkin berfikir, bahwa  mereka yang paling dirugikan bila terjadi tindak pidana korupsi. Tapi tidak sadar bahwa merekalah penyebabkan korupsi sebenarnya. Tidak akan ada hakim yang menerima sogokan tanpa ada masyarakat peyogok, tidak akan ada polisi ataupun jaksa berkelakuan bagaikan anjing tanpa ada masyarakat yang menyumpal mulut mereka dengan uang. Tidak akan ada anggota DPR penjual pasal, tanpa ada masyarakat yang membayar. Bahkan tidak akan ada anggota DPR yang korupsi tanpa ada rakyat yang dengan uang 50 ribu rela memilih koruptor.

Mengendalikan Sisi Gelap

Betapa banyak prilaku koruptor diperbuat para pendekar anti korupsi negri ini, baik  penegak hukum maupun rakyat jelata, dari sikaya sampai simiskin. Besar kecilnya uang yang dikorupsi tergantung situasi, waktu dan kesempatan dimiliki. Jika Sang Penguasa melakukan Korupsi, uangnya pastilah lebih besar dibandingkan simiskin yang Korupsi.

Jika yang kuat mencuri Harta Negara maka yang lemah mencuri sandal jepit dan biji kakao, kedua duanya sama-sama pencuri tapi bedanya hanyalah kesempatan menjadi pencuri yang lebih besar. Jika simiskin atau silemah diberi kekuasaan, maka tidak ada jaminan mereka tidak akan mencuri harta negara. Dengan menyadari bahwa tubuh ini mempunyai sisi gelap berupa nafsu koruptor, tidak berusaha membantah, tetapi tetap mengendalikannya akan mempermudah kita dalam memberantas korupsi.             Pemberantasan korupsi bukanlah mustahil ketika setiap orang berusaha mengubah dirinya sendiri, mencegah diri sendiri agar tidak menjadi koruptor jauh lebih penting dari pada mengurus para tersangka koruptor. Mengubah teman, keluarga, masyarakat bahkan negara ini hanya akan menjadi omong kosong,  ketika tidak diawali dengan megubah diri sendiri.

Dipublikasikan pada hari Selasa, 22 Mei 2012 di Harian Pagi Padang Ekspres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat