Negara tanpa Pesaing

Persaingan di Negara yang terkenal dengan budaya kebersamaan, gotong royong, senasib sepenanggungan, merupakan hal yang sangat ditabukan. Selalu diartikan sebagai tindakan individual, egois, menghalalkan segala cara, menipu, licik, bahkan menekan kaum lemah dan miskin.

Kekurangpahaman akan arti persaingan, membuat banyak sekali masyarakat lupa akan pentingnya persaingan. Tim sepak bola Indonesia sejak tahun 1980-an, sampai kapan pun tidak akan pernah mengalami kemajuan Tanpa ada kompetisi yang sehat. Jika tidak ada pesaing maka tidak akan tau, apakah kita telah bekerja dengan optimal. Ketika tidak ada pembanding maka kita akan selalu terjebak pada kesimpulan bahwa kitalah yang terbaik. Persaingan mendorong atlet karate berusaha keras untuk tetap menduduki posisi puncak.  Ini menunjukkan bahwa persaingan akan mendorong peningkatan kinerja.

Ketika kita membawa istilah persaingan ke dalam dunia usaha (pasar), Ilmu Ekonomi menempatkan pasar paling ideal, adalah pasar yang bersaing sempurna (perfect competition market). Sedangkan pasar yang sifatnya sangat bertolak belakang  dengan pasar persaingan sempurna dikenal dengan  Pasar monopoli, pasar dimana penjual selalu mempunyai kekuatan mutlak untuk menentukan harga, dengan menentukan jumlah barang yang akan dipasok kepada pembeli (Price Setter). Akibat kondisi ini, harga yang ditawarkan di dalam pasar monopoli akan selalu lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasar persaingan sempurna.

Kondisi ironis terjadi ketika dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, Negara dengan bar-bar melakukan praktik monopoli. Tindakan monopoli Negara seakan selalu berlindung dibalik sakralnya Pasal 33 UUD’45 dimana pengaturan, penyelenggaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam ada pada negara, untuk kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 Akan tetapi kemudahan-kemudahan yang diterima perusahaan milik negara (BUMN) dalam melakukan monopoli, mengakibatkan  perekonomian biaya tinggi, tidak efisien, serta diiringi pula dengan pelayanan yang buruk. Hadirnya beberapa perusahaan negara seperti PLN, PDAM, KAI, dan Pertamina, yang tujuan awalnya menyejahterakan rakyat tapi pada akhirnya justru menyiksa dan menginjak-menginjak rakyat sendiri.

Monopoli PLN, PDAM, KAI

Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan perusahaan yang memonopoli kelistrikan Nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat bergantung pada PLN. Akan tetapi, Faktanya PLN tidak mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-daerah yang kebutuhan listrik belum terpenuhi, Juga terlihat dari seringnya terjadi pemadaman listrik secara sepihak.

Ketika ada komplain terhadap voltase listrik yang  tidak stabil atau pemadaman listrik, yang menyebabkan semua pekerjaan yang membutuhkan listrik tertunda atau tidak bisa mandi karena pompa air mati, PLN dengan Tanpa dosa menjawab “kami tidak tahu kapan listrik akan menyala lagi. Perbaikan trafo tidak bisa dipastikan memakan waktu berapa lama”. Melihat kondisi Listrik yang  tidak pernah bisa dinikmati secara merata oleh semua masyarakat di negeri ini, ditambah lagi pemadaman listrik sepihak. Masyarakat Indonesia sepertinya tidak akan pernah merasakan kehidupan yang lebih baik karena jargon PLNadalah “Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik”. 

Kondisi yang sama juga terjadi pada PDAM dengan kualitas airnya, ataupun KAI dengan semua keterlambatannya. Penyebabnya pun karena hal yang sama, yaitutidak adanya persaingan bisnis di lahan ini. Seandainya ada swasta yang ikut ambil bagian dalam bisnis Listrik, Air, dan Kereta Api, pastilah pelayanan, harga, serta hasilnya akan lebih baik, karena semua akan berkompetisi dalam merebut hati rakyat.

Belajar dari Telkom dan Garuda Indonesia

Dulu ketika semua orang mempercayakan komunikasinya kepada Perusahaan Telkom melalui produk telepon rumahnya, tarif dan pelayanan yang mereka berikan sat itu sangat tidak memuaskan. Tetapi sekarang ketika masyarakat tidak lagi bergantung pada mereka, sebagai satu-satunya penyedia jasa telekomunikasi, Telkom akhirnya menurunkan tarif dan memperbaiki kualitas layanan, bahkan sampai membuat iklan di TV untuk mencari pelanggan. Bayangkan jika sampai sekarang dunia telekomunikasi masih dikuasai oleh negara (Telkom), pastilah rakyat tidak akan semudah sekarang ini mencicipi era komunikasi.

Hal yang serupa juga terjadi pada maskapai penerbangan Garuda Indonesia, dengan melihat jargonnya saja “Kini Lebih Baik” dapat disimpulkan bahwa, betapa buruknya tarif dan pelayanan yang diberikan Garuda dulu, dengan adanya kompetitor dari maskapai penerbangan lain, membuat Garuda meningkatkan kualitas, dan terus berbenah diri.

Bagaimana Dengan Pertamina ?

Terlepas dari isu pro dan kontra kenaikan BBM baru-baru ini di tengah masyarakat, Pertamina sebagai perusahaan yang menduduki Posisi Dominan dalam menyalurkan minyak di Indonesia juga tidak terlepas dari buruknya pelayanan, masih banyak pekerjaan Pertamina yang tidak efektif dan efisien. Akhirnya rakyat Tanpa bisa memilih, harus menerima semua itu.

Walaupun ketika berbicara persaingan maka akan identik dengan melepaskan kebijakan harga kepada mekanisme pasar. Sangat identik pula dengan Liberalisasi yang ditakuti sebagai sebuah ancaman bagi rakyat. Tetapi pada era yang dianggap sebagai era kemenangan kapitalisme, Era yang oleh Fancis Fukuyama disebut sebagai berakhir sejarah (the end of history), Negara bisa melindungi rakyatnya dengan melakukan Intervensi Kepada Mekanisme pasar.

Dengan kebijakan anti-trus, pemerintah harus bisa memaksimalkan fungsi UU No 5 tahun 1998 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, serta UU No. 8 Tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen. Kebijakan inilah yang disebut sebagai jalan tengah antara sosialis dan liberalis atau jalan yang disebut sebagai jalan ketiga (Third Way). Jalan dimana pasar tidak boleh disandera oleh kekuatan negara tetapi negara tidak boleh pula lumpuh di hadapan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
WhatsApp chat